Media Info Kampus, Beasiswa, Tips dan Berita Pendidikan

Seorang Sarjana lebih Memilih jadi Ibu Rumah Tangga, Salahkah Aku ?

Itukah.com - Keputusan dalam milih, Seseorang Sarjana yang memilih menjadi Ibu Rumah Tangga, bukanlah hal yang perkarah mudah dalam artian saat-saat ini banyak diluar sana yang menganggap dimana ibu rumah tangga merupakan pekerjaan hal yang mudah, kecil dan remeh. Jadi tak perlu pendidikan tinggi atau pencapaian tertentu untuk mengurusi rumah tangga, anak dan suami. Lantas, tak heran saat anda, seorang sarjana, lulusan pendidikan tinggi dan memutuskan menjadi ibu rumah tangga dianggap menjadi keputusan yang salah. Mungkin saat ini anda bertanya-tanya "Salahkah aku menjadi ibu rumah tangga meski aku berpendidikan tinggi?". Berikut beberapa alasan mengenai masalah ini.

Meraih pendidikan yang tinggi merupakan cita-cita bagi banyak orang, kamu yang berhasil melakukannya haruslah bersyukur karena banyak yang tidak seberuntung dirimu.
  • Ketika lulus kuliah dan menjadi seorang sarjana, kamu mungkin masih kepikiran untuk berkarir dan bekerja. Kamu ingin mengamalkan semua ilmu yang telah kamu dapatkan ketika di bangku kuliah. Kamu ingin mencoba mempraktekan kerangka berpikir di dalam kehidupan nyata sembari merasakan kerasnya kehidupan di dunia.
Seorang Sarjana lebih Memilih jadi Ibu Rumah Tangga, Salahkah Aku ?


Semua berubah ketika dia datang padamu, dia yang telah mencuri hatimu ingin hidup bersama denganmu.
  • Kedatangannya dalam hidupmu membuatmu bahagia, dia adalah sosok yang akan melengkapi hidupmu. Bersama dengannya kamu mengikat janji setia, hidup bersama di kala suka maupun duka. Kamu dan dia lalu menjalin ikatan yang lebih kuat melalui pernikahan, langkah awal bagi mimpimu dalam merajut bahtera rumah tangga.
Lihat Juga: 9 Alasan yang Membuat Aktivis Kampus Patut Jadi Pasangan Hidup !!

Ketika buah hati yang ditunggu akhirnya datang, kamu mulai dihadapkan dengan pilihan untuk menjadi ibu rumah tangga
  • Ketika baru menikah, beban sebagai ibu belum ada. Kamu hanya seorang istri bagi seorang suami. Semua berbeda ketika buah hati mulai dalam kandungan, kamu mulai berpikir tentang masa depan anak yang sedang kamu kandung. Apakah lebih baik baginya jika aku terus bekerja? Ataukah aku harus meninggalkan pekerjaan demi mengasuhnya?
Seorang Sarjana lebih Memilih jadi Ibu Rumah Tangga, Salahkah Aku ?


Hidup selalu memberikan banyak tawaran. Dan menjadi ibu rumah tangga adalah pilihanmu.
  • Akhirnya kamu membuat pilihan untuk menjadi Ibu rumah tangga. Meninggalkan semua impian karir yang pernah kamu bangun. Kamu tahu peranmu dalam sebuah rumah tangga. Dan kamu tak keberatan untuk melakukannya.

Ada alasan logis di balik pilihanmu. Kamu ingin anak dan suamimu terawat dengan lebih baik.
  • Menjadi ibu rumah tangga membuatmu bisa mengasuh anakmu secara langsung. Kamu juga akan menjadi seorang guru terbaik bagi anakmu. Kamu juga bisa melihat tumbuh kembang anakmu, momen pertama kali dia bisa berjalan dan menyebut namamu tidak akan kamu lewatkan.

"Seorang sarjana, memutuskan menjadi ibu rumah tangga?" Kamu kadang merasa resah dengan suara sumbang itu.
  • "Sekolah tinggi-tinggi sampai sarjana cuma jadi ibu rumah tangga? Sayang banget" Kalau cuma mau jadi ibu rumah tangga gak usah sekolah sampai sarjana" Begitulah yang mungkin akan sering kamu dengar ketika memutuskan untuk berkarir di rumah. Suara sumbang itu pernah mengusikmu, namun kamu tetap teguh pada keputusanmu. Haters gonna hate. Setiap keputusan dalam hidupmu pasti akan ada orang yang memberi tanggapan negatif.

Saat melihat kehidupan teman-temanmu yang tetap menjadi wanita karir, kamu pun kadang kembali bimbang.
  • Kamu mungkin akan melihat kehidupan temanmu yang memilih jalan yang berbeda darimu. Terbersit keinginan untuk seperti mereka. Bebas bermain dan pergi kemana saja tanpa punya tanggungan di rumah. Mereka masih bisa mengejar karir setinggi yang mereka inginkan.
Seorang Sarjana lebih Memilih jadi Ibu Rumah Tangga, Salahkah Aku ?


Rasa bimbang di hati sirna ketika kamu melihat anakmu tumbuh sehat dan dekat denganmu.
  • Semua kebimbanganmu sirna ketika anakmu tumbuh menjadi anak yang pintar dan punya karakter baik. Dia menjadi anak yang baik dan penuh kasih sayang. Semua berkar limpahan waktu dan kasih sayang darimu. Kamu sadar bahwa dialah, si buah hati, sumber kebahagaiaanmu, bukan karir setinggi langit.

Keputusan ini juga membuatmu punya banyak waktu bersama pasanganmu. Dia pun semakin sayang padamu.
  • Selain pada si buah hati, keputusanmu juga memberi efek positif bagi suamimu. Ingat, di balik pria sukses selalu ada wanita yang tangguh. Kamu punya banyak waktu untuk mengurus semua kebutuhannya, menjadi teman diskusi, bahkan tetap menjadi partner romantis di rumah. Hal yang tidak akan bisa kamu lakukan ketika kamu kecapean sepulang kerja.

Menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan mulia. Kamu menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa.
  • Ibu adalah inti keluarga yang akan menentukan arah perkembangan penerus keluarga. Kualitas seorang ibu akan menentukan kualitas anak yang dididiknya. Dengan menjadi Ibu rumah tangga, kamu telah mengabdikan dirimu bagi masa depan anakmu kelak, agar ia menjadi pribadi yang cerdas dan bermoral baik hingga dia bisa menjadi sosok yang bermanfaat bagi negara dan bangsa.
Sumber: IDNtimes.com
Ayo Gabung di Grup: SNMPTN dan SBMPTN [All Years]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Seorang Sarjana lebih Memilih jadi Ibu Rumah Tangga, Salahkah Aku ?"

Poskan Komentar

Jika ingin yang ditanyakan jangan segan-segan untuk berikan di Form Komentar dibawah ini.